Tahap 01
Brief & kebutuhan ruang
Awali dengan fungsi bangunan, lokasi, perkiraan ukuran, dan target penggunaan. Sampaikan juga rencana perluasan, kebutuhan khusus peralatan, serta pihak perencana yang sudah terlibat. Brief membantu memisahkan kebutuhan utama dari hal yang masih dapat dikembangkan.
Tahap 02
Tinjau kondisi proyek
Akses kendaraan, area penyimpanan, keadaan tapak, dan bangunan di sekitar perlu dikenali. Untuk bangunan eksisting, informasi kondisi struktur menjadi bagian penting. Data yang belum tersedia dicatat agar dapat dilengkapi sebelum keputusan teknis dibuat.
Tahap 03
Selaraskan gambar & lingkup
Gambar, spesifikasi, batas pekerjaan, asumsi biaya, dan jadwal perlu mengacu pada dokumen yang sama. Pastikan pembagian tanggung jawab untuk pondasi, angkur, rangka, atap, utilitas, serta pekerjaan arsitektur terbaca jelas.
Tahap 04
Siapkan fabrikasi
Gambar kerja menjadi acuan persiapan material, pemotongan, pelubangan, penyambungan, dan pelapisan sesuai lingkup. Penandaan komponen dan pemeriksaan dimensi membantu menghubungkan pekerjaan workshop dengan urutan pemasangan di lokasi.
Tahap 05
Koordinasikan pemasangan
Kesiapan pondasi, akses pengiriman, area kerja alat, dan urutan ereksi harus selaras. Koordinasi lapangan mengikuti metode kerja serta rencana keselamatan yang disiapkan oleh pihak kompeten. Perubahan di lapangan perlu dicatat dan ditinjau.
Tahap 06
Periksa & dokumentasikan
Pemeriksaan akhir mengacu pada lingkup dan spesifikasi yang disepakati. Daftar penyelesaian, catatan perubahan, serta informasi pemeliharaan menjadi bahan penutupan pekerjaan. Dokumen serah terima membantu pemilik memahami hasil dan batas tanggung jawab.